Kelahiran dan pertumbuhanku berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku tumbuh gigi di sebagian gusiku, hari ini belasan tahun telah melewatiku hingga tersebutlah masa remajaku. Aku terkulai karena masih semuda ini aku sudah banyak melakukan kesalahan pada diriku sendiri. Bahkan aku mengecewakan banyak orang yang telah mengharapkanku (menjadi anak yang berbakti dan membanggakan).

Aku cuma gadis yang lemah dan tidak tahu terima kasih. Aku selalu menuntut untuk bahagia di samping remuknya perasaan ibuku. Aku selalu bertanya, kenapa ibu menceraikan ayahku. Andai kejadian menyakitkan itu tidak pernah terjadi, mungkin aku bisa seperti anak-anak normal lainnya. Yang bisa berinteraksi dengan mudahnya dengan siapapun tanpa harus menangis terlebih dahulu, tanpa harus ketakutan dan ragu. Aku seperti menelan panasnya bara api lalu seluruh tubuhku meleleh hingga tak tersisa tulang belulangnya. Sia-sia saja.

Jatuh Cinta

Seperti yang kalian tahu, aku bukanlah wanita cantik (menurut lelaki yang ada di sekelilingku) secara fisik. Warna kulitku sawo matang, bahkan terlihat seperti sawo busuk karena terlalu cokelat. Tetangga bahkan keluargaku sendiri pun sepakat kalau ada yang memanggilku dengan sebutan "oreo atau cokelat". Tinggi badanku tidak semampai seperti anak-anak perempuan lainnya di keluarga ibuku. Itu karena bapakku yang berani menurunkan genetika buruknya (secara umum) kepadaku. Aku sedih ketika ada yang meremehkanku bahwa aku tidak akan laku. Memangnya aku sedang dijual? 

Kalau bicara tentang perasaan, aku lebih sering sakit hati karena sejak aku dilahirkan, tidak ada seorang pun yang pernah memuji kecantikanku, bahkan aku selalu menjadi objek lelucon ketika guru-guru di sekolah sudah mulai bosan mengajar, dan mereka mulai bertanya kepada beberapa teman laki-laki di kelasku, apakah mereka mau memiliki pasangan sepertiku. Sebagian besar kalian sudah pasti tahu jawabannya, mereka menolakku secara kasar dan marah tak terkira sehingga teman-teman yang lainnya menertawakan kami seolah ada pertunjukan sirkus yang menumbalkan monster sepertiku. 

Aku tersenyum simpul dengan aliran darah yang begitu deras dan detang jantung yang begitu cepat. Sebegini hinanya diriku ketika warna kulitku terlihat lebih pekat dari yang mereka miliki? Aku bertanya keras pada perasaanku sendiri, sampai pada akhirnya aku meluapkan seluruh air mata pada ilalang kering yang terseret angin di sepanjang perjalanan pulangku menuju rumah.

Tapi sampai di penghujung kelas enam sekolah dasar, aku sedikit mendapat pujian dari salah satu keluarga ibuku, katanya kalau dilihat lebih dekat lagi, parasku memang manis, semanis senyumku yang diqiyaskan seperti bunga mawar merekah di tengah kemarau panjang. Aku menjadi bahagia, hingga pada akhirnya aku jatuh cinta pada diriku sendiri.

Mencintai Seorang Lelaki

Hari ini, tepatnya di usia yang ke tujuh belas tahun, tiba-tiba aku mengagumi seorang laki-laki. Satu dari milyaran manusia yang tercipta dari segala keajaiban tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membuatku gugup saat kali pertama diajaknya ngobrol berdua. Aku sungguh tak berani menatap kedua bola matanya dua kali. Satu kali pandangan saja sudah bikin jantung saya berdetak sangatlah cepat. Aku jadi bertanya sekali lagi pada ruang yang kosong tak berpenghuni, apakah aku masih pantas untuk dicintai seorang laki-laki? Apakah aku akan laku seperti barang dagangan yang disebutkan mereka?

Ternyata sampai hari ini, sejak peristiwa kelulusan masa MTs. ku, banyak yang memuji paras manisku, wajah bersihku, kulit putihku, raut muka baby face ku. Yang semua itu aku dapatkan secara instan dari beberapa produk kosmetik rekomendasi dari teman sekelasku masa sekolah dasar dulu. Aku merasa malu, ternyata menjadi orang berwajah cantik berparas manis seperti kata kebanyakan orang untukku akhir-akhir ini tidak membuatku lupa dengan masa lalu. Masih ada saja yang menghina dan melecehkanku secara terang-terangan.

Akhirnya ku tersadar, bahwa mencintai diri sendiri bukan melulu soal perubahan, tapi mengingat Allah atas segala perkara yang disampaikan melalui jalan kehidupan setiap makhluknya. Ku bersyukur, masih memiliki orang yang masih ku percaya dan mempercayaiku, ibu di segala aspek kasih sayangnya. Happy birthday, kampret. Kamu adalah yang terbaik, meski banyak kejadian buruk yang menimpamu atas kerja kerasmu yang buruk. Berubahlah ke arah yang lebih baik, sehingga tiada lagi ketakutan yang kau sampaikan saat kau terlihat membanggakan di mata orang lain.

Sweet Seventeen, 

Selamat pagi khalayak, semoga hati ini tak pernah lelah memendam perasaan bersalah hingga suatu hari nanti aku bisa menghapus kembali ingatan rasa bersalah itu dan menggantinya dengan sebuah kebenaran. Hari ini aku bersaksi bahwa tiada makhluk Tuhan yang begitu berputus asa selain merasakan kesakitan yang begitu luar biasa. Ibuku kini terbaring lemah di atas tanah yang hanya berlapiskan tikar plastik bertumpukan babut (karpet). Sudah dua tahun ini beliau menderita penyakit lumpuh sebelah yang tak bisa didiagnosa oleh dokter biasa. 

Semua itu pasalnya dikarenakan ada gangguan tak kasat mata yang katanya mengintai lama tubuh ibu untuk dirobohkan jasadnya dan diambil nyawanya secara paksa, ke alam yang bukan seharusnya di mana manusia itu kembali kepada Tuhan setelah meninggal dunia. Ibu dijadikan tumbal pesugihan, oleh siapa dan untuk siapa, aku tak mau tahu dan tak ingin tahu sebab siapapun orangnya pasti tak lagi mengakui kesalahan yang sudah ia perbuat kepada ibu.

Yang terpenting bagiku saat ini adalah kesembuhan ibu hingga tak ada lagi air mata yang mengalir di ujung mata kanan dan kiriku. Sudah cukup batinku saja yang menangis sekeras-kerasnya. Jangan sampai sapu tangan ini basah oleh ingus dan tangisan setiap hari.

Mungkin Inilah yang Dinamakan Jodoh

Aku mengikuti acara Maulidur Rosul yang ada di sekolahku. Tidak ada yang sedang ku pikirkan selain mencari cara bagaimana agar penyakit ibuku tidak lagi menggerogoti tubuh yang sudah tua dan ringkih itu. Bahagianya, alhamdulillah saat ini aku masuk kelas tiga Madrasah Aliyah yang (ada) di bawah naungan salah satu Pondok Pesantren termasyhur di kota kelahiranku. Tapi cerita ini, kembali kepada satu tahun yang lalu.

Aku duduk di barisan paling tengah di sebuah aula kecil berukuran sekitar 18m x 6m. Ketahuilah bahwa sekolah yang aku tempati saat ini masih terbilang minim siswa, jadi tak usah kau bayangkan betapa besar luas keseluruhan sekolahku yang hanya memiliki tiga kelas per-gradenya. Tapi bersyukur, masih lengkap dengan perpustakaan, ruang osis, ruang lab sains dan lab komputer. Bukan sekolah murahan, tapi kebanyakan anak abege di tempatku memang sangat jarang yang berani mengambil sekolah lanjutan berlabel "Madrasah Aliyah" swasta.

Aku menunduk sepanjang acara, berharap mendapat keberkahan dari setiap sholawat yang kami lantunkan bersama-sama. Pagi itu, sekitar pertengahan acara aku disapa sama kakak kelas. Sudah biasa, aku selalu lebih memilih tempat yang tenang berjauhan dari teman-teman sekelasku. Mending satu baris sama kakak kelas yang tidak aku kenal biar aku khusyu' berdoa, maksudku mungkin biar tak banyak ngobrol saat mengikuti acara ini. Kamu Riris kan? Sapanya penuh hati-hati. Aku tersentak menoleh ke samping di mana telingaku menangkap gelombang suara yang begitu lirih. Ku lihat dari dekat, senyum ramah penuh ikhlas menyapaku dengan penuh perhatian. Aku pun menjawabnya dengan satu anggukan dan senyuman. Aku kembali menunduk sambil melihat pesan yang ada di ponsel nexianku.

Ia pun terdiam lama karena melihatku acuh setelah itu. Kamu sedang ada masalah ya? Kalau boleh, kakak mau kok dengerin suara hati kamu. Suara lirih itu kembali lagi, seolah memaksaku untuk bercerita bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Air mataku tiba-tiba jatuh, tak mungkin ku menceritakan masalah pribadiku kepada seseorang yang belom aku kenal sama sekali. Tapi melihat tutur kata dan perilaku kakak kelas perempuanku yang bernama Needa ini rasanya seperti menemukan saudara kandung yang terpisah lama. Ia terlihat baik sekali dengan tata bahasa yang begitu sopan dan lembut. Agak-agak ku ingin memeluk tubuhnya dengan erat.

Entah bagaimana menjelaskannya, kak Needa bisa memaksaku untuk berani mengugkapkan kata-kata. Ibu kakak juga mengalami hal yang sama dek, malah dulu dimasukkan ke keranda mayat. Kami sekeluarga sampai menjerit-jerit, tapi alhamdulillah sekarang sudah membaik dan sehat kembali. Kalau mau coba, barangkali kan jodoh, nanti kamu kakak antar ke tempatnya, karena rumah beliau tidak jauh dari rumah kakak. Aku pun mengangguk sambil berterima kasih sebanyak-banyaknya.