Sudah dua bulan yang lalu aku resmi mengundurkan diri dari profesi kasir minimarket. Aku berniat memenuhi permintaan salah satu keluarga yang masih peduli tentang pendidikanku. Mereka menyuruhku melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi, biar jadi orang bener katanya, ben bisa membahagiakan orang tua agaknya. Ingat sekali waktu itu Om Didin membisikkan amanahnya ke kupingku, katanya aku harus ambil jurusan manajemen atau akutansi, karena dua jurusan itu dianggap senjata nuklir buat orang yang mau kerja kantoran. Nanti om masukkan ke kantor perpajakan, sama seperti om. Jangan lupa ikut tes STAN minggu depan. Jantungku berdetak keras bahkan melebihi takarannya. Mana mungkin orang sepertiku bisa kuliah, mengais pendidikan sampai ke tingkat SMA saja rasanya kudu sujud syukur sebanyak-banyaknya.

Dua hari penuh aku menenangkan hati dan pikiran. Rasanya aku ingin menyerah saja pada keadaan. Toh kata neneku, lebih baik aku fokus pada pekerjaan dibanding pendidikan, karena orang susah seperti kami rasanya impossible untuk bisa sekolah sampai ke perguruna tinggi. Tapi kalau aku bisa kuliah sambil kerja, masaiya aku harus menyerah begitu saja. Aku memberanikan diri bicara dengan ibu. Secara, satu-satunya orang yang paling aku percaya saat ini adalah beliau. Kali aja restu beliau bisa membawaku menuju krenteke atiku. Ya, ternyata pilihanku adalah ingin kuliah.

Yesterday

Sebelum hari kemarin tiba, aku mendiskusikan segala keinginan dan kebutuhanku sebagai calon perantau dan pengais ilmu di ibukota. Agak-agaknya beliau kurang setuju karena selama ini aku belom pernah berpergian jauh. Lagian aku juga merasa berat kalau harus meninggalkan kota kelahiranku, terlebih meninggalkan beliau yang sudah memasuki usia setengah baya. Robek sudah hatiku yang baru menggebu-gebu untuk pergi jauh merantau.

Sebelumnya aku bilang sama ibuku, kalau nanti aku akan mengikuti casting film/ sinetron sembari kuliah di Jakarta. Kalau saja STAN memang jodohku, mungkin aku akan meninggalkan setitik impianku untuk menjadi artis. Hari ini, jadi artis itu sangat berpengaruh banget loh, jangan salah. Beberapa hari lalu, aku mendapat tawaran spesial dari PH Dharmawangsa Studio X untuk syuting film FTV. Ya, mungkin sebagai pemeran pembantu. Tapi biarkanlah, namanya juga mengawali berkarir, segala sesuatu harus penuh dengan drama terlebih dahulu bukan? Aku ingin menunjukkan sisi positifku kepada mereka yang sudah menghina dan meremehkan potensi seniku. Menjadi artis, mungkin bisa sedikit merubah kasta kependudukanku.

Ingat sekali ketika lulus sekolah Juni 2010 kemarin, aku harus berusaha membanting tulang, membuat orang lain tidak meremehkan keadaanku dan mengganti semua jerih payah orang tuaku dengan sedikit recehan kertas. Tapi semuanya gagal. Aku hanya berhasil keluar rumah tanpa pamit. Mencari tumpuan yang bisa mendukung penuh ittikad baikku untuk bekerja. Aku pergi ke rumah saudaraku, saudara jauh, sambung sanak, entahlah ku harus menyebutnya apa, yang jelas saudaraku tadi mengerti betul apa yang sedang ku keluhkan. Jadi aku numpang hidup di tempat mereka. Sampai akhirnya aku dapat kerjaan di sebuah restoran. La Shang Wei Resto namanya, di Supermall Surabaya.

Setelah selesai dari pekerjaan laknat itu, aku sempat bekerja menjadi kasir di salah satu minimarket, dan baru dua bulan yang lalu aku mengundurkan diri karena alasan yang begitu menjijikkan (nanti aku ceritakan terpisah). Tiga bulan bekerja rasanya bikin aku kangen menjadi siswa lagi. Ternyata kerja itu nggak enak ya. Benar kata ibu, mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu bisa menegakkan hidup kita suatu hari nanti.


Today,

Aku melewati 16 jam perjalanan melalui jalur kereta api jurusan Surabaya - Jakarta. Aku masih terlalu dini untuk berpergian sendiri. Bukan soal feminisma yang telah memoderatkan segalanya bagi perempuan dan laki-laki. Tapi beneran, aku seolah anak ayam yang harus mencari sendiri di mana kebaradaan si induk yang beberapa minggu ini menghantui bayang-bayang kehidupan. Aku berjalan sendiri bahkan berlari-lari karena impian semu yang sepertinya sudah 5cm ada di depan mata. Saya hanya bermodalkan tekat, beberapa lembar uang saku, ridlo ibu, dan teman sekelasku, Hanif.

Terima kasih banyak, nif. Kamu telah menambahkan poin pahala kepada dirimu sendiri karena sudah begitu ikhlas memberiku informasi mengenahi Jakarta dan calon tempat rantauku. Hari ini, aku sudah menginjakkan kaki di tanah rantau ibukota, ditemani bodyguard baik hati, si Hanif teman sekelasku dulu. Menghela nafas di kosan putra (tempat si ahdan, hanif, ayip, dan satu lagi temannya) sembari mencari tempat untuk tempat tinggalku di sini.


Thanks tanah rantau, tiba-tiba aku merindukan kota kelahiranku juga satu wanita hebat yang ada di dalam sana. Apa kabar, bu? Semoga baik-baik saja dan selalu mendapatkan keberkahan-Nya. Aamiin.

Juni, 2011
Di warnet kecepit di samping gang sempit bertarif paling irit.